Self-Development

Akibat Menjadi Manusia Sok Tahu.

Disclaimer : tulisan aku kali ini mengandung spoiler pada salah satu adegan di drama Hospital Playlist, kalau kamu nggak mau tahu adegan yang akan aku ceritakan di sini, you can skip reading this post, ok?

**

Ada satu adegan di drama Hospital Playlist yang bikin aku kepikiran sampai sekarang. Tepatnya salah satu adegan di episode sembilan yang menyorot sisi lain dari karakter Ik-jun sebagai salah satu pemeran utamanya.

Well, aku kasih background-nya Ik-jun dulu ya di drama ini, in case you don’t know him :

Ik-Jun (diperankan oleh Cho Jung-suk) adalah profesor bedah hepatobillier-pankreas yang terkenal jenius, baik hati, perhatian, dan nyaris tahu semua hal tentang hidup termasuk dalam menilai situasi dan perasaan orang-orang di sekitarnya. Ik-jun digambarkan sebagai sosok yang percaya diri dan playful sehingga adegan yang akan aku ceritakan memang related dengan karakter Ik-jun sendiri di drama ini.

Balik ke adegan yang aku bicarakan sebelumnya, bagian adegan tersebut adalah saat Ik-jun mendapat pasien seorang perempuan yang membutuhkan donor hati karena fungsi hatinya mengalami kerusakan. Bapak dari pasien perempuan tersebut lalu mengajukan dirinya sebagai pendonor, si bapak sampai mendesak para suster agar diizinkan menjadi pendonor hati untuk anaknya. Ik-jun pun harus turun tangan memberikan penjelasan ke bapak tersebut bahwa dikarenakan kondisi hatinya yang berlemak serta risiko umur bapak yang sudah tua, si bapak tidak memenuhi syarat sebagai pendonor.

Setelah diberikan penjelasan seperti itu, si bapak kemudian menghilang berhari-hari. Ik-jun menyimpulkan kalau firasatnya benar, si bapak pada akhirnya lepas tanggung jawab dan meninggalkan anaknya sekarat seorang diri. Hal ini diperkuat dengan informasi bahwa si bapak memang baru bertemu dengan anaknya belum lama ini sebelum anaknya menderita penyakit tersebut.

Saat Ik-jun akhirnya berniat untuk mencari si bapak, tiba-tiba saja si bapak muncul dengan penampilan yang jauh berbeda. Faktanya selama berhari-hari, si bapak melakukan segala cara agar dirinya bisa menjadi pendonor untuk putri semata wayangnya. Si bapak mati-matian diet dan olahraga, menjalani pola hidup sehat sampai menyewa trainer profesional agar supaya dirinya bisa memenuhi syarat sebagai pendonor hati anaknya.

Ik-jun speechless.

Singkat cerita si bapak akhirnya diizinkan untuk mengikuti proses transfusi. Namun highlightnya adalah saat setelah bertemu dengan bapak tersebut, Ik-jun memutuskan untuk merenung di kantornya. Melakukan introspeksi diri bahwa ternyata dia terlalu sok tahu dengan hidup orang lain.

Adegan Ik-jun introspeksi diri inilah yang juga otomatis membuat aku jadi ikut introspeksi diri.

Sadar atau tidak, kita semua pernah menjadi sok tahu seperti Ik-jun. Merasa lebih tahu soal hidup, merasa lebih pintar, merasa lebih berpengalaman, dan merasa-merasa lebih lainnya. Hal ini bila dibiarkan akan berujung menjadikan kita sombong sehingga berani menghakimi kehidupan orang lain atau bahkan sampai merendahkan pilihan dan kehidupan orang lain.

Meyakini apa yang kita yakini bukanlah sesuatu yang buruk tetapi kadang kala terlalu meyakini apa yang diyakini membuat kita jadi terburu-buru menarik kesimpulan. Padahal kita bisa saja loh melewatkan fakta yang belum terungkap.

Cerita Ik-jun harusnya nggak hanya jadi pembelajaran bagi Ik-jun tapi juga menjadi pembelajaran untuk kita, bahwa pendidikan, status, umur, dan pengalaman nggak membuat kita menjadi paling tahu tentang dunia. Belajar lebih rendah hati because we are not the center of universe.

**

Tujuanku membagikan cerita ini sebenarnya sederhana, sebagai pengingat untuk aku pribadi (dan mungkin juga kalian yang membaca) untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan atas keputusan hidup orang lain. Semoga kita bisa terhindar dari sifat yang bisa menyakiti hati orang lain yaa, amin!

3 thoughts on “Akibat Menjadi Manusia Sok Tahu.

    1. baru sempat balas giin hahaha, thank youu sudah jadi pembaca setiakuu *peluuk*

      It’s okay gin kita semua pasti pernah menjadi ikjun, namanya juga manusia berego yakaaan. Tapi kita semua bisa belajar sedikit demi sedikit supaya bisa menjadi lebih baik daripada yang kemarin. Cie gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *