Self-Development

Belajar dari Kebab Mini yang Gagal

Pagi tadi, aku iseng mau coba-coba buat kebab mini untuk sarapan. Karena enggak punya kulit kebab yang sudah jadi, mau enggak mau kulitnya harus aku buat sendiri. Thanks to youtube, aku bisa dengan mudah mencari referensi resep yang bisa dengan mudah aku ikuti. Jadilah, aku menemukan tiga video yang kurang lebih bahan dan cara membuat kulit kebabnya sama, dan tentunya mudah untuk dieksekusi.

Tiga puluh menit membuat adonan, satu jam menunggu adonan mengembang, akhirnya tiba juga waktu menggiling adonan.

Sampai di tahap menggiling, aku sudah agak khawatir dengan kondisi adonanku yang masih lengket. Dan benar aja, dong, setelah percobaan pertama, adonanku jika digiling tipis jadi rentan robek. Sayangnya bila dibiarkan tebal pun, hasilnya enggak terlihat seperti kulit kebab. Alhasil bentuknya se-enggak jelas itu! ((menertawakan diri sendiri)). Baru setelah dua kali percobaan, aku nyerah. Kulit kebabnya gagal.

Lalu problematika lain pun muncul. Dilanjut enggak puas tapi enggak dilanjut pun takut rugi!

Entah karena sudah terbiasa menghadapi kegagalan sejenis atau hanya karena efek insting seenggak mau rugiku muncul, otakku bisa seacara otomatis memikirkan Plan B setelah Plan A gagal. Begitu saja aku kepikiran untuk menyelamatkan adonan yang tersisa dengan membuat pizza teflon, meski sebelumnya belum pernah mencoba membuat resep tersebut. Hanya mengandalkan kesotoyan dan lagi-lagi insting enggak mau rugi, aku mengolah adonan tersebut menjadi seperti pizza, setelah eksekusi dadakan, tebak apa yang terjadi selanjutnya?

Yap! Pizza-ku malah sukses besar (maybe it wasn’t a big deal for some people but for me it was hit!). Adikku ketagihan, Mama yang notabene enggak pernah suka pizza juga memberikan approve-nya.

Senang banget, dong! Aku pun yang jarang puas sama hasil masakan sendiri (asli, lebih sering aku yang kritik masakanku sendiri) akhirnya bisa puas dengan hasil masakan dadakan yang less expectation ini. ((cie bangga)) ((enggak apa-apa , sekali-sekali ya, beb!))

**

But that’s not my point.

Bukan soal ‘hasil kebab mini jadi pizza’-nya tapi tentang prosesnya. Tentang pelajaran yang bisa aku (dan kamu juga) petik dari contoh kegagalanku tersebut. Bahwa gagal tidak melulu soal nasib buruk. Bahwa gagal bukan akhir dari segalanya. Melainkan, gagal tidak seharusnya menghentikan jalan kita untuk mencari pintu sukses yang lain.

Yas, I know…

Aku tahu bahwa enggak semua orang punya mental yang kuat dalam menerima kegagalan, enggak semua orang bisa tetap berpikir positif setelah menghadapi sebuah kegagalan. Itu manusiawi. Aku pun sering menangisi kegagalan yang terjadi dalam hidupku. Tapi menangis saja enggak membuat kita belajar. Terus-terusan meratapi kegagalan nyatanya enggak akan membuat kita kemana-mana. Satu-satunya cara, yaitu menjadi terbiasa.

Terbiasa gagal, membuat insting kita jadi ikut terlatih memikirkan jalan keluar yang lain. Terbiasa gagal, juga bisa membuat kita jadi lebih kreatif dalam mencari solusi.

Gagal itu wajar, kalau kata Pak Dahlan Iskan mah, “Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu.” Percayalah deh, Allah SWT enggak akan mungkin membiarkan hambanya yang sudah berusaha gagal terus-terusan. Pasti ada jalan. Gitu.

Jika gagal dan gagal lagi, jangan putus asa dulu. Pelan-pelan cari solusinya, pelan-pelan belajar dari kegagalan tersebut. Jangan lupa, evaluasi diri juga. Pasti, Allah SWT telah menyiapkan jalan sukses yang lain buat kamu. Mungkin enggak sekarang, mungkin dengan jalan sukses yang berbeda. Tetap semangat yaaa!

Semangat berjuaaaaang! Sukses selalu untuk kita!

**

Featuring dengan Mantra-mantra :

If Plan A didn’t work, the alphabet still has 25 more letters.

Stay cool!

Gif from Pinterest

Featured Image by Mister Mister from Pexels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *