Personal

Pause and Reset.

Sebelum tanggal enam berganti, sebelum aku memulai hari yang baru dengan umurku yang baru, aku ingin menulis ini. As part of my journal, yang ingin aku abadikan di blog aku ini. Tulisan yang sebenarnya kudedikasikan untuk diriku sendiri, dengan harapan hatiku bisa lebih ringan, lebih siap menyambut lembar baru dalam hidupku.

Salah satu resolusiku di umur yang baru ini adalah aku ingin lebih bisa menerima diriku apa adanya. I want to stand for myself, menjadi lebih kuat dan bahagia. Aku sadar bahwa selama ini aku tidak begitu mengenal diriku dengan baik, aku sering mengabaikan perasaanku, membebani pikiranku dengan hal yang berlebihan, dan membiarkan diriku tersakiti bahkan oleh diriku sendiri. This is not healthy. I know, that’s why I want to start a new journey.

Setelah berhari-berhari merenung dan melihat diriku sendiri, aku belajar untuk memaafkan diriku sendiri. Satu yang paling berat adalah melepaskan rasa bersalah yang terus menggangguku. Tentang perasaan bersalah yang ternyata secara ilmu psikologi adalah racun buatku. Kapan-kapan aku bahas ya tentang perasaan bersalah ini. Intinya, beban ini yang seringkali membuat aku melihat diriku sebagai orang lain.

Aku tahu bahwa sebagai manusia aku punya sisi jahat, yang mana sulit bagiku untuk melawan egoku sendiri. Itu makanya menulis yang baik-baik selalu membebani pikiranku. Aku tahu bahwa apa yang aku tulis di sini kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka dari itu, sebelum aku melangkah lebih jauh, aku ingin menyampaikan permintaan maafku yang paling tulus kepada siapapun yang hatinya pernah tersakiti atas ucapan, perbuatan, dan sikapku yang tidak dewasa selama ini.

Aku tahu rasanya bertemu dengan orang-orang yang membuat hidupku tidak nyaman dan aku selalu takut menjadi racun bagi kehidupan orang lain. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa aku mungkin pernah menjadi racun bagi kehidupan orang lain, dengan tanpa sadar (atau yang kusadari tapi menolak mengakui). Jika memang aku pernah menjadi racun bagi hidup kalian, aku minta maaf. Aku minta maaf secara tulus. Aku mungkin pernah mengatakannya secara langsung tetapi izinkan aku untuk mengulanginya. Agar beban ini boleh kulepaskan.

Aku akan selalu berdoa agar Tuhan memberikan kalian orang-orang yang membuat hidup kalian lebih bahagia.

Dan untuk janjiku, untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Doain ya!

God bless you!

XOXO, Taya.

**


Featured Image by Castorly Stock from Pexels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *