Self-Development

Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

Pada 2 Maret 2020 menjadi momen pertama Indonesia mengumumkan pasien pertamanya yang terjangkit virus korona (Covid-19), juga sebagai titik awal gelombang pandemi di tanah air. Tercatat hingga 2 Mei 2020 pasien positif Covid-19 sudah mencapai 10.843 kasus dengan jumlah kematian yang tidak sedikit. Penyebaran Covid-19 yang cepat dan memiliki potensi besar ‘membunuh’ ini kemudian menciptakan kepanikan dan kekhawatiran berelebihan dalam masyarakat. Hal ini tentunya menjadi ancaman tersendiri sebab jika perasaan-perasaan tersebut tidak dikelola dengan baik, perasaan-perasaan tersebut dapat menimbulkan masalah yang lebih serius terkait dengan kesehatan mental masyarakat sendiri.

Tidak dapat dipungkiri pandemi telah melahirkan banyak perosalan baru yang menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia seperti hubungan sosial, pergeseran budaya, hingga aspek ekonomi yang mana masing-masing aspek tersebut memicu tekanan di masyarakat.

Terbatasnya akses bersosialisasi dengan masyarakat tentunya menjadi permasalahan psikologis tersendiri bagi kita sebagai mahluk sosial. Apalagi sudah nyaris dua bulan kita semua terpaksa berkegiatan di rumah yang ternyata bisa sangat melelahkan, terlebih bagi kamu yang terbiasa berkegiatan di luar rumah. Hilangnya akses bertemu keluarga yang dialami tenaga medis menjadi contoh nyata betapa beratnya tekanan yang dirasakan masyarakat selama pandemi ini pada aspek sosialisasi.

Adapun dari aspek ekonomi yaitu banyaknya masyarakat yang kehilangan sumber penghasilannya karena pandemi. Ketidaksiapan mental karena kehilangan pekerjaan bisa jadi pemicu tingginya tingkat persoalan gangguan kesehatan mental selama pandemi. Berdasarkan laporan Gugus Tugas Covid-19 saja, komposisi masalah kesehatan di Indonesia dengan besar 80% didominasi oleh permasalahan psikologis. Ironisnya kesehatan mental ini dapat mempengaruhi sistem imun yang mana jika kita mengalami stress berlebihan otomatis sitem imun kita juga ikut menurun sehingga kita menjadi lebih rentan terkena virus.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita dan orang-orang di sekitar kita bisa tetap sehat secara mental? Tentunya kita harus saling bahu-membahu dalam melewati masa-masa krisis pandemi ini.

Berikut beberapa opsi yang bisa kamu lakukan untuk tetap menjaga kesehatan mental kamu dan orang-orang di sekitar kamu :

  1. Usahakan tetap bersosialisasi at least tetap mengobrol dengan orang-orang di sekitarmu. Orang tua, saudara, mbak di rumah, atau teman-teman melalui telepon.
  2. Tanyakan kabar kerabat dekat, pastikan mereka tidak merasa sendirian. Berikan semangat seperti kamu mendapatkan semangat bahwa semua ini akan berakhir.
  3. Jika kamu atau kerabatmu butuh pertolongan dalam kasus yang ada kaitannya dengan kesehatan mental, pemerintah telah menyiapkan nomor darurat 119 extension 8 untuk layanan konsultasi gratis terkait kesehatan mental atau kamu bisa mendapatkan akses berobat lewat daring pada aplikasi halodoc.
  4. Berbuat baik-lah semampu kalian. Kirimkan makanan ke teman-teman kalian yang tinggal sendirian, ikut berdonasi membantu kelangsungan hidup orang-orang yang terkena dampak secara langsung, atau simply memberikan dukungan berupa tip atau membagi makanan yang kamu pesan dengan pengemudi ojek online.
  5. Mendukung bisnis teman yang dirintis dengan membeli produk-produk yang mereka jual juga dapat menumbuhkan harapan teman-teman yang kehilangan pekerjaannya.
  6. Kurangi mengonsusmsi informasi atau berita yang memicu kekhawatiran kamu. It’s okay kalau kamu ingin mengatifkan fitur ‘mute’ untuk topik-topik terkait pandemi ini sebab kesehatan mental mu lebih penting.

Last, stay strong because we are all in this together!


Featured Image by Daria Shevtsova from Pexels

One thought on “Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *