Personal

March 2021: Perpisahan.

Prolog : edisi monthly journal kali ini nggak akan mengikuti format yang seharusnya sebab menulis monthly journal kali ini memang agak sedikit berat buatku. Aku juga nggak punya banyak energi untuk mengedit tulisan ini, jadi tulisan ini mentah dan benar-benar seperti curahan hati aku saja. Thank you for reading!

*

Nggak hanya satu tapi di bulan Maret ini aku harus mengalami atau mendengar kabar perpisahan dari tiga orang terdekatku sekaligus. Meski sebenarnya tujuan perpisahan ini merupakan hal baik untuk mereka. Dua sahabatku meninggalkan kota tempat kami tinggal untuk melanjutkan hidup mereka masing-masing. Yang satunya akan menikah dan yang satunya lagi akan melanjutkan karir yang selama ini ia impikan di ibu kota. Keduanya kemungkinan besar akan tinggal di kota yang berbeda dalam waktu yang lama, yang juga berarti intesitas peretemuan kami akan terus berkurang kedepannya. Walaupun aku pernah berpisah dengan mereka ketika kuliah dulu, entah mengapa perpisahan kali ini terasa jauh berbeda. Mungkin karena aku sadar setelah ini prioritas hidup mereka juga akan berubah, mereka mungkin akan punya cerita yang tidak lagi bisa kita bahas bertiga dalam satu kali duduk di kafe seperti dulu. Jujur, aku bakal kehilangan momen-momen ini, sih, but they know that I always support them no matter what. Jadi, kalau kalian berdua baca tulisan ini, selalu ingat kalau aku selalu sayang sama kalian berdua! Aku akan selalu dukung dan mendoakan kalian di sini, jadi tetap semangat, yaaaa!

Perpisahan pedih lainnya datang dari sosok yang selalu aku anggap sebagai sahabat, adik, dan bos kecil kesayangan keluargaku di rumah. Adik paling bontotku akhirnya mengikuti jejak dua saudaraku yang lain untuk merantau. Dia akhirnya mengambil tawaran kerja di luar kota setelah melalui proses rekrutmen yang panjang dan melelahkan. She finally got her first proper job setelah lulus kuliah kemarin, and I am so proud of her. Dengan karir yang InsyaAllah cemerlang kedepannya, aku mau nggak mau harus rela melepaskan adik kesayanganku pergi merantau. Jujur, ini berat banget apalagi aku dan Mama janji untuk nggak menunjukkan kesedihan kita berdua di depan dia. Jadi selama beberapa hari sebelum dia berangkat, aku nggak boleh nangis dan harus selalu terlihat mendukung dia. I tried my best meski ujung-ujungnya nangis sendiri juga pas ditinggal. But again, aku akan selalu mendukung keputusan adikku. Semoga adikku sehat selalu, kuat, sukses, dan yang paling penting selalu dalam lindungan Allah SWT (bantu Aminin yaaa). I love you ecaaaa! Bakal kangen banget tidur, sarapan, dan jahilin eca di rumah 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *